Selasa, 14 Juni 2011

"Waktu"



Aku adalah bocah.
Aku bocah yang beranjak dewasa. Di mana gengsi sedang berada di tingkat yang tertinggi rasa dalam pubertas yang absurd.
Aku tidak ingin terlihat bodoh hanya karena alasan yang sederhana, karena aku bocah.
Dari  itu aku menunggu sesuatu di sini bukan untuk  menyesali waktu yang kian habis tapi memperhatikan debu yang berterbangan di jalan. Hanya debu. Karena waktu tidak pernah bisa kembali. Lebih baik aku memikirkan tentang hal lain.  Atau sesuatu yang lain.

Terkadang aku ingin menjadi patung sekarang.
Katanya sebuah patung tidak punya perasaan kehilangan waktu. Karena patung tidak melakukan apapun dengan waktu. Waktu berhenti bagi sebuah patung ketika penciptaannya di mulai dan berakhir.
Sayangnya, aku tidak bisa memiliki perasaan itu, karena aku tahu waktu terus berjalan.
Lalu aku mulai merisaukan waktu
Karena aku telah berjanji dengan seseorang tentang waktu.


Terkadang aku merasa menyesal mengapa berjanji. Jika tidak ada janji berarti tidak ada beban.
Entah apa yang mendorong setiap mahkluk di dunia ini untuk sepakat dengan satu hal. Bahwa janji adalah hutang.

Entah apa yang mendorong keberanian seekor Punai menghadapi hujan badai demi janjinya merajut sarang bersama pasangannya di puncak sebuah pohon.
Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh burung Balam untuk berani melihat pejantannya yang telah terpikat oleh tali pemburu.

Janji itu sebuah pikiran, perasaan atau hanya insting?.
Benih janji berbuah kepada sebentuk kepercayaan.
Kata kepercayaan itulah yang memaksa aku untuk tetap berdiri di sini.

Tapi aku dan seseorang itu telah berubah, sementara itu hari sudah semakin dalam.
Tidak banyak yang bisa dilakukan dengan waktu yang terbatas seperti ini.
Dan Perubahan adalah tuntutan sejarah (Ibraim G. Zkir). Siapa yang mengingkarinya akan tergilas oleh sejarah itu sendiri.

Aku bertanya dalam hati:
Apa yang membuat waktu tidak bisa dihentikan, padahal keinginan manusia sangat banyak untuk dicapai. Bukan hanya tentang cita-cita yang terbentuk dalam alam tak sadar maupun hasrat yang secara sengaja di datangkan, terbentuk serta berpupuk.

Ku dongakkan kepala ke atas merenungi waktu dan perubahan kini dari masa lalu.
Di daratan banyak hal yang secara mendadak berubah, barangkali hanya langit yang tidak berubah. Itupun karena kita tidak bisa melekatkan warna kuas pada dindingnya yang abstrak. Seandainya langit memiliki relief beku seperti atap rumah. Pastilah langit sudah penuh dengan coretan-coretan, tempelan beraneka bentuk atau mungkin di jadikan ampaian untuk menjemur pakaian.

Sedikit ku  pahami waktu yang berubah, ialah karena manusia selalu ingin berubah.
Selalu ingin berubah ke hal-hal baru yang tidak sederhana dan cenderung aneh dan rumit.

Manusia bukanlah vertebrata yang mudah legowo dengan hal-hal yang sederhana.
Karena itu kita memilih nikah daripada kawin. Nikah adalah persoalan yang kompeks. Mengabungkan peri hidup puluhan jiwa dari dua keluarga yang berbeda. Melibatkan psikis, fisik serta ekonomi. Bagi sebagian orang menikah bisa menjadi hal yang menakutkan. Sedangkan kawin adalah kesenangan tanpa batas. Sangat sederhana. Bisa dilakukan kapanpun seperti yang kebiasaan Anjing, Itik, Kambing.

Kita pun memilih bercinta dibandingkan ngesek. Karena bercinta lebih rumit, manusia suka dengan hal-hal yang rumit. Emosionil percintaan membuat kesempurnaan fisik dan jiwa menemui bentuk yang paripurna. Ada letupan cemburu, salah tingkah. Percintaanlah yang membuat Taj Mahal Indah. Percintaaan yang membuat puisi Gibran begitu pedih untuk dibaca. Sedangkan nafsu birahi melahirkan Prambanan yang tidak sempurna. Ngesek hanya menguras tenaga dengan membakar ribuan kalori, jutaan hormon tertumpah tersia-sia, menghasilkan peluh kotor, kepuasan yang sederhana, selebihnya kegelisahan hati dan setumpuk penyesalan.

Penerimaan terhadap hal yang sederhana adalah penghinaan pada akal. Karena itu tidak aneh, kalau pribadi yang menganut methode konvensional di jaman seperti ini diejek norak. Mentaati ritus tradisional adalah hal yang kuno. Seseorang tidak dikatakan canggih kalau menganalogikan persamaan 1=1. Tapi dianggap canggih kalau mampu menjelaskan persamaan 1=2 seperti yang berhasil dijelaskan oleh Einstein.

Agama yang bersumber dari satu kitab yang sama bisa diinterpretasi berbeda. Manusia punya kecenderungan mengubah ketidakterbatasan menjadi sesuatu yang bisa dijangkau. Akibatnya banyak hal-hal yang awalnya sederhana ditangan manusia menjadi rumit. Barangkali itu alasannya mengapa kening kita bisa berkerut.
Dalam hati kembali ku bertanya, apa yang membuat waktu tidak bisa dihentikan, padahal keinginan manusia sangat banyak untuk dicapai. Bukan hanya tentang cita-cita yang terbentuk dalam alam tak sadar maupun hasrat yang secara sengaja di datangkan, terbentuk serta berpupuk.

Lalu aku  berandaian dengan berkesimpulan:
barangkali waktu berbentuk seperti benang yang berpintal. Semakin lama buntalannya kian besar. Detik-detiknya membuat jarak kulit terluarnya semakin jauh dari buntalan awal yang kecil. Kemudian buntalan tersebut mengelinding ke bawah, tidak pernah berhenti meski untuk setengah jenak. Juga tidak bisa merayap naik kembali. Perannya menghantarkan malam pada sebentuk malam berikutnya, melanjutkan kelahiran kepada kelahiran, mengantikan keletihan demi keletihan. Ampasnya menyisakan gumpalan selaput kenangan yang berangkai di pikiran. Waktu adalah pengumpul jumlah demi jumlah. Harga dan harga. Ulahnya itu seperti pedagang di pasar kehidupan yang tak bosan menjajakan barang-barang. Menawarkan ironi dan pilihan demi pilihan. Ironisnya kita sering terlambat menyadari harga-harga yang diberikan oleh waktu.

Oh seseorang, maafkan aku bila tak bisa memenuhi tuntutan waktu.