Sabtu, 16 Juli 2011

Cara Kerja Antenna dan Gelombang Elektromagnet

Kita sering menggunakan antenna untuk keperluan sehari-hari tapi bagi orang yang penasaran mungkin artikel sederhana ini akan mencoba menjawab bagaimana cara kerja antena. saya mencoba menggunakan bahasa yang sederhana dalam menjelaskan sehingga mudah dipahami.

Gelombang Elektromagnet


Gelombang Elektromagnet

sebelum mengetahui cara kerja antena, lebih baik kita pahami terlebih dahulu konsep gelombang elektromagnet. sesuai namanya, GEM(Gelombang Elektro Magnet) terdiri atas medan listrik(Electro) dan medan magnet(Magnet) yang menjalar(Propagasi). contoh gelombang elektromagnet adalah gelombang sinyal HP, Microwave, dll. Yang namanya gelombang, pasti mempunyai ‘naik’ dan ‘turun’. pertanyaanya mengapa bisa merambat/menjalar(propagasi)? contoh medan magnet adalah medan akibat magnet :) yang mengakibatkan besi tertarik maupun menjauh sedangkan contoh medan listrik adalah medan yang mengakibatkan muatan negatif (elektron) mengalir dalam kabel. Muatan listrik terdiri atas muatan negatif(ex. elektron) dan muatan postif(ex. proton) tapi yang bisa bergerak dengan bebas adalah elektron, medan listrik di akibatkan oleh muatan listrik, sedangkan medan magnet diakibatkan oleh…
muatan magnet
?,  salah, tidak ada muatan magnet, apabila kita memotong magnet, maka pasti akan ada kutub utara dan selatan sekaligus, hal ini berbeda dengan muatan listrik yang bisa kita dapatkan secara terpisah, yaitu muatan negatif atau positif saja.

Persamaan Maxwell

Persamaan Maxwell
nah, bla..bla..bla… berdasarkan percobaan ternyata, medan listrik yang berubah-ubah akan menyebabkan medan magnet dan sebaliknya , medan magnet yang berubah ubah menyebabkan medan listrik. karena itulah kedua medan ini saling membangkitkan satu sama lain. sehingga bisa menjalar/merambat. seperti yang saya katakan di awal, gelombang pasti mempunyai naik dan turun, satu pasang nilai naik dan turun itu lah yang disebut 1 gelombang, semakin kecil ukuran gelombang/panjang gelombang maka semakin besar frekuensiya, artinya dalam satu waktu yang sama gelombang dengan frekuensi tinggi akan lebih sering terjadi naik dan turun dari pada gelombang dengan frekuensi yang lebih rendah. frekuensi ini lah yang menjadi identitas dari sebuah saluran informasi(kanal). frekuensi ini lah yang menjadikan radio satu dengan yang lain berbeda dalam hal pengaksesan. frekuensi pula menjadi benda ‘ghaib’ yang mahal, karena jumlah yang bisa dipakai cukup rendah, karena itu di kemenkominfo ada bagian yang mengurusi penyediaan frekuensi.
nah sekarang, tentang antena.

Antena Dipole(dua kutub) dialiri arus bolak-balik membangkitkan gelombang elektromagnet

Antena Dipole(dua kutub) dialiri arus bolak-balik membangkitkan gelombang elektromagnet
sesuai dengan pernyataan di atas, jika terjadi perubahan nilai pada medan listrik, maka akan timbul medan magnet. jika mendan magnet berubah nilainya, maka terjadi medan listrik, begitu seterusnya. sehingga cara yang mudah adalah kita membuat medan magnet yang berubah-ubah. caranya bagaimana? kita aliri dua buah logam dengan muatan listrik yang berbeda dan berubah-ubah(biasanya berupa sinyal sinus), sehingga akan muncul gelombang elektromagnet yang merambat ke arah tertentu. nah, dengan gelombang inilah kita bisa menumpangkan sinyal informasi seperti suara, text sms, data dan sebagainya. ketika gelombang elektromagnet tersebut bertemu dengan logam yang lain, maka gelombang tersebut akan mengakibatkan perubahan muatan pada logam tujuan yang nantinya bisa diterjemahkan menjadi sinyal listrik dan bisa diolah informasi yang dikirimkan.
Antena Dipole menerima gelombang elektromagnet yang datang
Antena Dipole menerima gelombang elektromagnet yang datang
antena dipole inilah yang menjadi dasar antena yagi-uda yang biasa kita pakai untuk antena televisi.
begitulah kurang lebih cara kerja antena mengirim dan menerima sinyal.
mohon kritik dan komentarnya. picture from Tippler’s Physics book
wallahua’lam.

Minggu, 10 Juli 2011

" Jangan Sepelekan Hal Kecil "

Ambillah hikmah sekalipun keluar dari mulut keledai.
Pepatah populer ini berasal dari khazanah Arab kuno. Tapi nilai pepatah ini tetap abadi dan bertahan hingga sekarang. Ini tak terlepas dari makna yang terkandung di dalamnya. Ambillah manfaat dari mana saja. Bisa dari batang pohon. Dari akarnya yang terbenam di tanah. Atau dari daun-daunnya yang menjulang ke angkasa.

Jangan memandang dari siapa nasehat atau kata-kata disampaikan, karena guru kebijaksanaan bisa berasal dari siapa, apa dan mana saja. Ada hal-hal usang yang membuat kita tersadar, melebihi ketersadaran yang kita dapat dari hal-hal yang bersifat terobosan baru. Ada kebudayaan asing yang sama sekali jauh dari karakter asli kita tapi bisa membuat kita memperbaiki budaya yang kita miliki dan seterusnya.

Sejak dunia ini terbentang hingga kita memasuki abad yang disebut "modern" ini, kita melihat bahwa orang-orang besar yang lahir ditangan sejarah adalah orang-orang yang sejatinya belajar dari hal-hal yang sepele. Bagi mereka tidak ada mahaguru ataupun encik guru. Tidak ada orang yang berhak diistimewakan hingga ada sebagian kelompok lain untuk diabaikan begitu saja. Semua hal. Orang, benda, kata-kata, peristiwa adalah mahaguru yang bijaksana. Yang membedakan kedirian mereka adalah mereka menjadikan mahaguru-mahaguru tersebut dalam bentuk-bentuk yang nyata mewarna peradaban.

James Watt mendapatkan pelajaran kebijaksanaan dari tutup periuk yang terangkat turun naik dari dorongan panas di dalamnya. Einstein mendalami ketertarikan pada fisika berawal dari pemberian kompas dari sang ayah, yang sesungguhnya kompas tersebut tidak normal sama sekali.

Sebaliknya orang yang menyepelekan hal-hal kecil malah menuai kekecewaan terbesar.
Penerbitan yang menolak naskah Harry Potter pada akhirnya harus gigit jari hingga berdarah melihat effek yang dihasilkan oleh kisah yang memukau tersebut. Dan konon Iskandar Zulkarnain, sang panglima perang terbesar dengan kerajaan yang meliputi beberapa wilayah besar harus takluk dibawah gigitan nyamuk malaria.

Kejayaan dan kejatuhan sebuah peradaban seringkali diawali oleh hal-hal yang mulanya bersifat sederhana. Pada tahap inilah, perlu penanaman sikap untuk menyadari diri sedari dini agar mau menghargai guru-guru berbentuk keledai tersebut. Karena tak seorang pun bisa mengetahui jangan-jangan sang keledai adalah Nabi Khaidir, Sang Simbol Kebijakan Sepanjang Masa.

Selasa, 14 Juni 2011

"Waktu"



Aku adalah bocah.
Aku bocah yang beranjak dewasa. Di mana gengsi sedang berada di tingkat yang tertinggi rasa dalam pubertas yang absurd.
Aku tidak ingin terlihat bodoh hanya karena alasan yang sederhana, karena aku bocah.
Dari  itu aku menunggu sesuatu di sini bukan untuk  menyesali waktu yang kian habis tapi memperhatikan debu yang berterbangan di jalan. Hanya debu. Karena waktu tidak pernah bisa kembali. Lebih baik aku memikirkan tentang hal lain.  Atau sesuatu yang lain.

Terkadang aku ingin menjadi patung sekarang.
Katanya sebuah patung tidak punya perasaan kehilangan waktu. Karena patung tidak melakukan apapun dengan waktu. Waktu berhenti bagi sebuah patung ketika penciptaannya di mulai dan berakhir.
Sayangnya, aku tidak bisa memiliki perasaan itu, karena aku tahu waktu terus berjalan.
Lalu aku mulai merisaukan waktu
Karena aku telah berjanji dengan seseorang tentang waktu.


Terkadang aku merasa menyesal mengapa berjanji. Jika tidak ada janji berarti tidak ada beban.
Entah apa yang mendorong setiap mahkluk di dunia ini untuk sepakat dengan satu hal. Bahwa janji adalah hutang.

Entah apa yang mendorong keberanian seekor Punai menghadapi hujan badai demi janjinya merajut sarang bersama pasangannya di puncak sebuah pohon.
Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh burung Balam untuk berani melihat pejantannya yang telah terpikat oleh tali pemburu.

Janji itu sebuah pikiran, perasaan atau hanya insting?.
Benih janji berbuah kepada sebentuk kepercayaan.
Kata kepercayaan itulah yang memaksa aku untuk tetap berdiri di sini.

Tapi aku dan seseorang itu telah berubah, sementara itu hari sudah semakin dalam.
Tidak banyak yang bisa dilakukan dengan waktu yang terbatas seperti ini.
Dan Perubahan adalah tuntutan sejarah (Ibraim G. Zkir). Siapa yang mengingkarinya akan tergilas oleh sejarah itu sendiri.

Aku bertanya dalam hati:
Apa yang membuat waktu tidak bisa dihentikan, padahal keinginan manusia sangat banyak untuk dicapai. Bukan hanya tentang cita-cita yang terbentuk dalam alam tak sadar maupun hasrat yang secara sengaja di datangkan, terbentuk serta berpupuk.

Ku dongakkan kepala ke atas merenungi waktu dan perubahan kini dari masa lalu.
Di daratan banyak hal yang secara mendadak berubah, barangkali hanya langit yang tidak berubah. Itupun karena kita tidak bisa melekatkan warna kuas pada dindingnya yang abstrak. Seandainya langit memiliki relief beku seperti atap rumah. Pastilah langit sudah penuh dengan coretan-coretan, tempelan beraneka bentuk atau mungkin di jadikan ampaian untuk menjemur pakaian.

Sedikit ku  pahami waktu yang berubah, ialah karena manusia selalu ingin berubah.
Selalu ingin berubah ke hal-hal baru yang tidak sederhana dan cenderung aneh dan rumit.

Manusia bukanlah vertebrata yang mudah legowo dengan hal-hal yang sederhana.
Karena itu kita memilih nikah daripada kawin. Nikah adalah persoalan yang kompeks. Mengabungkan peri hidup puluhan jiwa dari dua keluarga yang berbeda. Melibatkan psikis, fisik serta ekonomi. Bagi sebagian orang menikah bisa menjadi hal yang menakutkan. Sedangkan kawin adalah kesenangan tanpa batas. Sangat sederhana. Bisa dilakukan kapanpun seperti yang kebiasaan Anjing, Itik, Kambing.

Kita pun memilih bercinta dibandingkan ngesek. Karena bercinta lebih rumit, manusia suka dengan hal-hal yang rumit. Emosionil percintaan membuat kesempurnaan fisik dan jiwa menemui bentuk yang paripurna. Ada letupan cemburu, salah tingkah. Percintaanlah yang membuat Taj Mahal Indah. Percintaaan yang membuat puisi Gibran begitu pedih untuk dibaca. Sedangkan nafsu birahi melahirkan Prambanan yang tidak sempurna. Ngesek hanya menguras tenaga dengan membakar ribuan kalori, jutaan hormon tertumpah tersia-sia, menghasilkan peluh kotor, kepuasan yang sederhana, selebihnya kegelisahan hati dan setumpuk penyesalan.

Penerimaan terhadap hal yang sederhana adalah penghinaan pada akal. Karena itu tidak aneh, kalau pribadi yang menganut methode konvensional di jaman seperti ini diejek norak. Mentaati ritus tradisional adalah hal yang kuno. Seseorang tidak dikatakan canggih kalau menganalogikan persamaan 1=1. Tapi dianggap canggih kalau mampu menjelaskan persamaan 1=2 seperti yang berhasil dijelaskan oleh Einstein.

Agama yang bersumber dari satu kitab yang sama bisa diinterpretasi berbeda. Manusia punya kecenderungan mengubah ketidakterbatasan menjadi sesuatu yang bisa dijangkau. Akibatnya banyak hal-hal yang awalnya sederhana ditangan manusia menjadi rumit. Barangkali itu alasannya mengapa kening kita bisa berkerut.
Dalam hati kembali ku bertanya, apa yang membuat waktu tidak bisa dihentikan, padahal keinginan manusia sangat banyak untuk dicapai. Bukan hanya tentang cita-cita yang terbentuk dalam alam tak sadar maupun hasrat yang secara sengaja di datangkan, terbentuk serta berpupuk.

Lalu aku  berandaian dengan berkesimpulan:
barangkali waktu berbentuk seperti benang yang berpintal. Semakin lama buntalannya kian besar. Detik-detiknya membuat jarak kulit terluarnya semakin jauh dari buntalan awal yang kecil. Kemudian buntalan tersebut mengelinding ke bawah, tidak pernah berhenti meski untuk setengah jenak. Juga tidak bisa merayap naik kembali. Perannya menghantarkan malam pada sebentuk malam berikutnya, melanjutkan kelahiran kepada kelahiran, mengantikan keletihan demi keletihan. Ampasnya menyisakan gumpalan selaput kenangan yang berangkai di pikiran. Waktu adalah pengumpul jumlah demi jumlah. Harga dan harga. Ulahnya itu seperti pedagang di pasar kehidupan yang tak bosan menjajakan barang-barang. Menawarkan ironi dan pilihan demi pilihan. Ironisnya kita sering terlambat menyadari harga-harga yang diberikan oleh waktu.

Oh seseorang, maafkan aku bila tak bisa memenuhi tuntutan waktu.