Minggu, 10 Juli 2011

" Jangan Sepelekan Hal Kecil "

Ambillah hikmah sekalipun keluar dari mulut keledai.
Pepatah populer ini berasal dari khazanah Arab kuno. Tapi nilai pepatah ini tetap abadi dan bertahan hingga sekarang. Ini tak terlepas dari makna yang terkandung di dalamnya. Ambillah manfaat dari mana saja. Bisa dari batang pohon. Dari akarnya yang terbenam di tanah. Atau dari daun-daunnya yang menjulang ke angkasa.

Jangan memandang dari siapa nasehat atau kata-kata disampaikan, karena guru kebijaksanaan bisa berasal dari siapa, apa dan mana saja. Ada hal-hal usang yang membuat kita tersadar, melebihi ketersadaran yang kita dapat dari hal-hal yang bersifat terobosan baru. Ada kebudayaan asing yang sama sekali jauh dari karakter asli kita tapi bisa membuat kita memperbaiki budaya yang kita miliki dan seterusnya.

Sejak dunia ini terbentang hingga kita memasuki abad yang disebut "modern" ini, kita melihat bahwa orang-orang besar yang lahir ditangan sejarah adalah orang-orang yang sejatinya belajar dari hal-hal yang sepele. Bagi mereka tidak ada mahaguru ataupun encik guru. Tidak ada orang yang berhak diistimewakan hingga ada sebagian kelompok lain untuk diabaikan begitu saja. Semua hal. Orang, benda, kata-kata, peristiwa adalah mahaguru yang bijaksana. Yang membedakan kedirian mereka adalah mereka menjadikan mahaguru-mahaguru tersebut dalam bentuk-bentuk yang nyata mewarna peradaban.

James Watt mendapatkan pelajaran kebijaksanaan dari tutup periuk yang terangkat turun naik dari dorongan panas di dalamnya. Einstein mendalami ketertarikan pada fisika berawal dari pemberian kompas dari sang ayah, yang sesungguhnya kompas tersebut tidak normal sama sekali.

Sebaliknya orang yang menyepelekan hal-hal kecil malah menuai kekecewaan terbesar.
Penerbitan yang menolak naskah Harry Potter pada akhirnya harus gigit jari hingga berdarah melihat effek yang dihasilkan oleh kisah yang memukau tersebut. Dan konon Iskandar Zulkarnain, sang panglima perang terbesar dengan kerajaan yang meliputi beberapa wilayah besar harus takluk dibawah gigitan nyamuk malaria.

Kejayaan dan kejatuhan sebuah peradaban seringkali diawali oleh hal-hal yang mulanya bersifat sederhana. Pada tahap inilah, perlu penanaman sikap untuk menyadari diri sedari dini agar mau menghargai guru-guru berbentuk keledai tersebut. Karena tak seorang pun bisa mengetahui jangan-jangan sang keledai adalah Nabi Khaidir, Sang Simbol Kebijakan Sepanjang Masa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar